MUNCHAUSEN TRILEMMA

AN INDIE ROCK BAND FORMED IN BANDUNG, INDONESIA.

Live at Hearing Goodness #5, 21 Okt '12. The Food Opera, Dago, Bandung. Taken by Shutter Beater.

SANTAY-SANTAY TENGAH PEKAN #4 AT MARLEY’S BAR JAKARTA.

Photos by: Norman Permadi

Accoustic set at Oj’s Tavern, Oz Radio Bandung event “Late Circus”, 26 March ‘12.

Photos by Nasrul Akbar

Penampilan Pertama Kami!!

Read More

behind the scene : Munchausen Trilemma photoshoot

all photos were taken by Marnala Eros

at Tikalika Gallery Bandung

If Loving You Is Heartbreaking - from my point of view

diantra:

Hari ini, band baru yang saya bentuk beberapa bulan lalu, Munchausen Trilemma, merilis single pertama untuk free download. Seminggu lalu, tepatnya di hari pertama tahun 2012, kami mengunggah lagu kami untuk bisa didengarkan. Versi demo, memang, tapi tanggapan yang didapatkan melalui media sosial seperti Twitter, Soundcloud, Tumblr, dan Facebook sangatlah banyak. Dari Indonesia sendiri, negara negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Australia, hingga Saudi Arabia, Jerman, Kanada, dan Amerika Serikat. Banyak dari pendengar di luar negeri yang berkomentar, bukan hanya mendengarkan. Mereka mengirimkan feedback via media sosial dan email, dan banyak yang menuliskan sepatah dua kata tentang lagu kami di blog mereka.

Mungkin bagi musisi besar, hal ini biasa saja. Bagi recording artist, ini adalah hal yang sepantasnya mereka dapatkan. Tapi bagi saya, yang memulai ini hanya bermodalkan sahabat sahabat saya, gitar mereka, laptop mereka, waktu dan dukungan mereka, ini sangat luar biasa. Saya tidak pernah membayangkan 1000 pendengar dengan ip address yang berbeda mendengarkan lagu kami, belum lagi yang mendengarkannya berulang ulang, dengan harapan playing numbers kami makin banyak. Hahaha. Padahal, banyak dari mereka yang tidak mengenal saya, dan band kecil baru kami ini.

Saya ingat lagi pertemuan saya dengan Riska Maharlika dan Vinda Monalisa, yang ternyata memainkan beberapa instrumen tanpa band tetap. Pertemuan kami yang pertama adalah di Warung Laos, di wilayah Cihampelas. Sore itu hujan deras, kami tiba hampir bersamaan dengan keadaan basah kuyup. Saya menjelaskan kepada mereka “band ini iseng. Udah bikin 2 lagu di laptop, tapi belum take vocal.” dan mengalirlah pembicaraan mengenai diri masing masing tentang sekolah, keluarga, hobi, dan influens dalam bermusik. Di tengah pembicaraan kami, Vinda menyadari bahwa saya kidal, lalu mereka berdua setengah kaget, berseru “aku juga kidal!”. Kami bertiga tertawa takjub dengan kesamaan itu, dan dalam hati (dan setengah berteriak) saya bilang “ini pertanda!” dan tertawa lagi. Dan, ya, setelah itu, saya tidak lagi mencari personil lain. Saya menetapkan inilah band kami. Dengan jarak usia yang besar (saya 28 tahun, Riska 24 tahun, Vinda 21 tahun) saya langsung jatuh cinta dengan mereka, dengan tidak adanya canggung akan jarak usia itu, dan dengan betapa mereka membuat saya merasa senang dan bangga karena bertemu dengan mereka, walaupun pertemuan itu terjadi di sosial media. Hahaha. Kemarin adalah latihan kami yang perdana di studio. Saya agak takut membayangkan saya yang pemula ini tidak bisa mengikuti ritme mereka dalam bermain musik. Juga takut tidak bisa bernyanyi dengan baik sambil memainkan gitar. Tapi ternyata latihan itu lumayan untuk latihan pertama. Mereka bermain bagus sekali, dan walaupun tertatih tatih, saya merasa saya juga tidak buruk. Masih harus menemukan taktik untuk bernyanyi dengan lebih baik tanpa terganggu dengan irama tangan yang belum terlalu menghafal letak jari yang benar untuk kord kord yang harus saya tekan, tapi secara keseluruhan, kami enak didengar. Hahaha.

Tentang lagu If Loving You Is Heartbreaking sendiri, saya ingin menceritakan kisah dibaliknya. Penulisan lagu ini terjadi di sebuah kafe, sambil menunggu Joe Novaliano (yang menyusun kord kord mudah dengan begitu indahnya demi saya yang baru belajar instrumen gitar) Amien Prahadian (yang juga ikut dalam proses kreatif itu, akhirnya saya tunjuk menjadi manajer kami), dan Aris Nugraha (yang laptop nya dipakai untuk merekam lagu ini, juga adalah produser kami). Pada saat itu, nada nada yang dimainkan Joe di gitarnya sudah saya rekam di iphone saya berupa video. Saya putar ulang berkali kali untuk menemukan lagam dasarnya, lalu saya meminta kepada waitres kafe itu sebuah pulpen untuk menuliskan lirik apapun yang terlintas di kepala selama waktu penantian 2 jam. Dalam proses kreatif, yang paling menegangkan adalah memulai. Kata pertama sangat menentukan flow dari keseluruhan lirik. Cukup lama saya termenung tidak tahu harus memulai dari mana. Ketika akhirnya saya menulis “This is love i thought, isn’t it?” dengan lancar kata kata selanjutnya mengalir. Setelah saya pikirkan lagi, mungkin lirik di lagu ini adalah yang benar benar saya rasakan, suatu saat, entah kapan itu. Mungkin malah selalu saya rasakan tiap saya menyukai seseorang, berpikir “saya suka gak ya? dia suka gak ya? Gimana kalau dia gak suka walaupun saya suka?” Hahaha. Kalau benar benar suka, tanpa mendapatkan perasaan yang sama dari orang yang saya sukai, biasanya saya tetap menyukai, dan menunjukkannya dengan perhatian walaupun hanya satu arah. Menunjukkan perasaan suka itu menurut saya sangat natural, dan sering membuat saya tidak peduli apakah dia menyukai saya juga atau tidak. Banyak yang mengira lagu ini adalah lagu patah hati, lagu sedih. Ini bukan. Ini adalah proses menyadari bahwa menyukai seseorang itu beresiko, dan menentukan apakah akan mengambil resiko itu. Itu saja, simpel sekali. Jadi jangan galau ya, menyanyikan lagu ini. Hahaha.

Untuk musiknya sendiri, tadinya saya ingin membuat kami terdengar seperti Warpaint, atau Best Coast, dan menghasilkan perpaduan keduanya. Ternyata gagal. Hahaha. Banyak yang bilang kami terdengar 90s, dan mereka menyukainya karena sudah lama tidak mendengarkan lagu yang seperti ini. Saya pribadi bukan musisi yang terlalu mempersoalkan genre. Tidak masalah, disebut apapun. Indie-rock, Dream-pop. Kalian suka, dan itulah hak prerogatif kalian sebagai pendengar yang menikmati musik kami.

Saya baru saja menekan tombol refresh di link download lagu kami ini. Sudah 5 jam setelah saya publish, dan angka menunjukkan hampir 500 orang telah mengunduh lagu ini. Entah siapa kalian, selain teman teman saya yang berbaik hati mengunduh, saya berterima kasih kalian sudah membuka link ke Tumblr kami, membaca Press Release yang dibuat oleh Dimas Ario, melihat foto yang dihasilkan Marnala Eros, memperhatikan ilustrasi yang dibuat Feransis, dan sing-a-long lirik lagunya yang sudah saya tambahkan di song info, dibalut nada yang diciptakan Joe Novaliano, di edit dan mix oleh Rizki Suciana, disebarkan oleh…kalian. :) Semua orang yang saya sebutkan di atas adalah sahabat sahabat saya, yang tidak menerima sedikitpun materi dari lagu ini, tapi nyatanya mendapatkan kepuasan yang sama dengan yang saya rasakan atas rilisnya lagu pertama kami ini. Terimakasih banyak, kepada kalian. Saya adalah musisi yang bahagia. :)  

Munchausen Trilemma: If Loving You Is Heartbreaking [free download]

Memperkenalkan girlband terbaru dari bumi Parahyangan yang meminjam nostalgia dari gemuruh suara kaset C90.

Munchausen Trilemma digagas oleh Diantra Irawan yang lebih dulu dikenal sebagai vokalis band Indie Pop Bossa Nova, Hollywood Nobody. Suatu hari ia terpikir untuk membuat band dengan personil yang kesemuanya wanita.

Pencarian personil dilakukan Dian melalui media sosial Twitter. Gaung bersambut meriah. Setelah beberapa pertemuan dengan para calon personil, Dian merasa memiliki ikatan yang kuat dengan Riska Maharlika (gitar) dan Vinda Monalisa (drum). 

“Begitu ketemu mereka, gue langsung nyambung. Ternyata begitu sadar, keduanya kidal. Kebetulan banget,” kata Dian.

Lalu secara resmi terbentuklah Munchausen Trilemma. 

Setelah band terbentuk, lalu lagu pun lahir dari senandung Dian di suatu malam. 

“Awalnya gue pengen musik Munchausen Trilemma itu seperti perkawinan antara Warpaint dan Best Coast tapi sepertinya gagal yah,” jelas Dian seraya tertawa saat ditanya arah musikal dari band terbarunya ini.

Lagu “If Loving You is Heartbreaking” yang pada awalnya ingin meniupkan nafas indie rock terkini malah berangsur-angsur menjadi sebuah lagu yang sarat dengan aroma nostalgia era 90an seperti yang banyak dilakukan band-band ‘alternatif’ di kala itu melalui suguhan vokal wanita di antara raungan distorsi dengan sensibilitas pop yang tinggi.

Seminggu yang lalu, “If Loving You is Heartbreaking” versi demo diperdengarkan ke publik. Berbagai respon positif berdatangan, dari teman, media hingga beberapa pihak di luar Indonesia yang kesemuanya itu menjadi sebuah prestasi tersendiri bagi sebuah band yang belum tiga bulan berdiri. 

Nama Munchausen Trilemma sendiri diambil Dian dari salah satu blogpost-nya terdahulu. Sebuah istilah psikologi yang mengemukakan bahwa tidak ada satu pernyataan yang bisa dibuktikan kebenarannya.

Lagu “If Loving You is Heartbreaking” yang Anda dengar sekarang adalah sebuah salam jumpa sekaligus pernyataan dari Munchausen Trilemma bahwa band ini akan bergemuruh lebih kencang dan suatu hari mereka akan dapat membuktikan pernyataannya.

9 Januari 2012

Dimas Ario


download If Loving You Is Heartbreaking

credits: 

mixing and mastering done by Rizki Suciana

producer Aris Nugraha

music director Joe Novaliano 

***

photo taken by Marnala Eros

located at Tikalika Gallery, Bandung

make up artist Meygador 


“atmosfer lagu ini sukses merubah warna cat kamar saya dari kuning tosca, menjadi biru torquise, sedikit ungu merbabu bila menghayati lebih dalam liriknya. tanpa sadar gonjrengan gitarnya yang renyah udah seenaknya aja ngegonjreng2 ulu hati saya. suatu perangkat aransemen musik yang pas untuk kamu2 yang sedang ‘move on’.. gerobak aja move on kok.”

—   Pratama Kusuma

dengarkan sambil menutup mata..
karena lagu ini berhasil membawa saya seakan sedang terpesona saat gerimis sore lalu bersandar di depan barikade Main Stage Lilith Fair 1997..
okay, saya lebay.. :p

ditunggu lagunyaa.. ;)

—   Galant - Musician 

“Unable to leave my desk as I don’t want to stop listening to Munchausen Trilemma song, which is currently unavailable for downloading. Woe.”

—   Wening Gitomartoyo - Editor Rolling Stone Indonesia